Outline MBCfPE:
1. Pengertian dan peran MBCfPE
2. Alasan penerapan MBCfPE
3. Sejarah MBCfPE dan MBNQA
4. IQA
Model pengelolaan organisasi yang diawali dengan pembuatan dokumen aplikasi dan dilanjutkan dengan penilaian terhadap kompetensi dan kinerja organisasi.
Penilaian kompetensi dilakukan terhadap 6 kriteria proses dan penilaian kinerja dilakukan terhadap 1 kriteria results. Kriteria tersebut dibangun berdasarkan pada 11 core values dan concepts yang saling terkait.
7 kriteria:
1. Leadership
2. Strategic Planning
3. Customer Focus
4. Measurement, Analysis, and Knowledge Management
5. Workforce Focus
6. Process Management
7. Results
11 core values & concepts:
Business, Nonprofit & Public Sector | Health Care | Education (Soon) |
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
| ||
|
Penilaian dilakukan oleh beberapa examiner untuk mengetahui strength sebagai keunggulan organisasi, weakness sebagai OFI. Skor MBCfPE menggambarkan tingkat kompetensi dan kinerja organisasi.
OFI dilaksanakan sebagai program perbaikan untuk mencapai kinerja unggul.
Visi TELKOM dapat dicapai dengan cara pengintegrasian implementasi system manajemen mutu ISO 9001 sebagai platform ditopang oleh pilar MBCfPE
Peranan MBCfPE bagi organisasi:
1. Membantu peningkatan kapabilitas dan kinerja
2. Memfasilitasi komunikasi dan berbagi informasi praktik terbaik diantara semua jenis organisasi
3. Menyediakan working tools untuk pemahaman dan pengelolaan kinerja serta pedoman perencanaan dan pelatihan.
Alasan memilih baldrige critetia:
1. Memberikan kerangka kerja untuk upaya perbaikan tanpa harus mendikte
2. Bersifat inklusif yang menguraikan kerangka kerja terintegrasi antara proses dan hasilnya
3. Fokus pada persyaratan yang bersifat umum, bukan pada prosedur, tolls, atau teknik
4. Bersifat adaptable, disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi bisnis
5. Merupakan kerangka kerja pengelolaan organisasi yang bersifat komprehensif
6. Bersifat universal yang dapat digunakan oleh semua organisasi
Alasan TELKOM:
1. Salah satu strategi untuk mencapai visi:
a. Sejauh mana posisi TELKOM dibandingkan dengan competitor
b. Apakah pengelolaan TELKOM telah dilakukan dengan benar
c. Sejauh mana tingkat kompetensi dan kinerja TELKOM saat ini
d. Seberapa banyak kelemahan (OFI)
e. Upaya perbaikan berkelanjutan yang yang harus dilakukan dalam rangka mencapai visi
Sejarah Malcom Baldrige:
Malcom Baldrige adalah mentri Perdagangan pada masa pemerintahan Ronald Reagen. Merupakan penganjur menejemen mutu sebagai kunci kemakmuran kemakmuran jangka panjang di AS.
1. Pasca PD II tahun 1945 upaya Dept. Perdanganan AS untuk memajukan pengembangan bisnis dan pertumbuhan ekspor tidak mendapat perhatian yang cukup, baik dari pemerintah maupun kalangan bisnis dibandingkan perhatian terhadap masalah diplomasi dan pertahanan Negara.
2. Malcom melihat bahwa produk-produk dan bisnis negaranya mulai terancam oleh produk dan bisnis Jepang yang unggul karena menerapkan system pengendalian mutu yang dicetuskan oleh ahli AS, yaitu Juran dan Demin. Malcom yang saat itu menjadi Menperdag. AS menyadari bahwa produk dan bisnis AS harus ditingkatkan kualitasnya untuk mampu bersaing.
3. Kesadaran dan proses pembelajaran Malcom Baldrige dan pelaku bisnis di AS sampai pada satu kesimpulan untuk menciptakan criteria keunggulan kinerja yang meliputi seluruh aspek secara holistic, termasuk bagaimana semua elemen bisnis secara bersama-sama member nilai pasar serta member nilai kepada pelanggan.
4. Untuk mengenang jasa Malcom, pada tanggal 20 Agustus 1987, Presidan Reagen menandatangani Malcom Baldrige National Quality Improvement Act of 1987 menjadi UU (public law). Lalu disusun criteria for Performance Excellence yang disebut juga Baldrige Criteria.
5. Keberhasilan AS mengatasi permasalahan melemahnya daya saing produk mereka di pasar internasional, mendorong banyak Negara/organisasi lain di dunia mengadopsi criteria ini dalam bentuk National Quality Award atau self assessment, termasuk Indonesia.
Implementasi MBNQA:
1. Tujuan untuk memajukan kepedulian atas keunggulan kinerja sebagai elemen penting dalam persaingan serta berbagi informasi tentang kesuksesan strategi kinerja dan manfaat-manfaat yang diperoleh dari penggunaan strategi tersebut.
2. Setiap organisasi harus menyerahkan dokumen aplikasi yang merupakan jawaban atas criteria untuk keunggulan kinerja. Kategori organisasi:
a. Manufacturing
b. Service
c. Small business
d. Nonprofit org.
e. Profit & nonprofit education
f. Profit & nonprofit healthcare
3. Seremony untuk menunjukkan besarnya perhatian pemerintah AS terhadap MBNQA, piala MBNQA diserahkan oleh presiden AS.
4. Piala berbentuk prisma dengan tinggi 14 inchi……..tertulis MBNQA dan The Quest for Excellence dan lambing kepresidenan.
IQA
Merupakan ajang penilaian kompetensi dan kinerja bagi perusahaan yang ada di Indonesia.
Success Story MBNQA di AS:
1. Motorola untuk kategori manufacturing dengan keunggulan kompetitif:
a. Customer intimacy (focus pada pelanggan)
b. Operational excellence (penciptaan budaya unggul berbasis proses)
c. Technology supremacy (pengembangan digital system untuk pelayanan)
2. Caterpillar Financial Services untuk kategori Services berhasil meningkatkan asset 34% dan profit 54% sementara performa industry sedang menurun berturut-turut 21% dan 35%
3. Bama Companies Inc. untuk kategori manufacturing:
a. 98% on time delivery
b. Peningkatan kepuasan pelanggan dari 75% pada 2001 menjadi 100% pada 2004
4. Boston Mehodist Hospital:
a. Kepemimpinan di semua area
b. Penurunan rata-rata kematian selama perawatan menjadi 3,5% dibawah rata-rata industry sejenis
c. Fokus pada pelanggan dengan indeks kepuasan lebih dari 97%
d. Fokus pada pegawai
Baldrige Criteria:
1. 11 core values & concepts
2. Kerangka kerja baldrige
3. Struktur Baldrige criteria
4. 7 criteria Baldrige
Penerapan Baldrige criteria sebagai model manajemen dalam rangka mencapai visi organisasi. Tingkat kompetensi dan kinerja organisasi dapat diukur dengan memberikan respon terhadap 7 kelompok pertanyaan-pertanyaan yang merupakan criteria keunggulan kinerja.
1. Visionary leadership: memiliki visi yang menantang, inspiratif, focus kepada pelanggan dan pasar, serta mampu mengarahkan organisasi sejalan dengan keinginan stakeholder, menjadi role model, memastikan terciptanya strategi, system, dan metode untuk meraih kinerja terbail.
2. Customer driven excellence: mampu menciptakan produk dan jasa yang dipilih oleh pelanggan, memiliki nilai pembeda dengan pesaing.
3. Organizational & personal learning:
a. Perbaikan berkelanjutan pada metode yang sedang berlangsung,
b. Penyesuaian terhadap perubahan lingkungan bisnis,
c. Pembelajaran harus menyatu dengan operasional organisasi.
d. Dapat memanfaatkan pengalaman melalui proses pembelajaran baik secara organisasi maupun individu.
e. Valuing employee & partner:
i. Kesuksesan organisasi tergantung dari adanya peningkatan pengetahuan, ketrampilan, kreativitas, serta motivasi pegawai dan mitra kerja.
ii. Harus mempunyai komitmen untuk kepuasan, kesejahteraan, dan pengembangan pegawai.
f. Agility: kemampuan organsiasi untuk melakukan perubahan dengan cepat menjadi tuntutan untuk meraih sukses di arena persaingan pasar global akibat dari perubahan lingkungan bisnis yang semakin dinamis dan tuntutan pelanggan yang semakin tinggi.
g. Fokus on the future: Pertumbuhan organisasi yang berkesinambungan dan menjadi pemimpin pasar, membutuhkan orientasi kuat ke masa depan dan memilliki hubungan/komitmen jangka panjang dengan stakeholder.
h. Managing for innovation:
i. Inovasi dapat diartikan meelakukan perubahan yang signifikan bagi pengembangan perbaikan produk,layanan , proses,
ii. Inovasi menciptakan nilai baru bagi organisasi,
iii. Inovasi merupakan kunci untuk memenangkan persaingan,
iv. Inovasi bersumber dari akumulasi pengetahuan yang dimiliki organisasi dan karyawannya.
i. Management by fact:
i. Organisasi tergantung pada proses pengukuran dan analisis kinerja,
ii. Pengukuran kinerja mencakup aspek-aspek pelanggan, produk, kinerja layanan, perbandingan opersional, pasar dan daya saing, supplier, pegawai , biaya, kinerja keuangan, dan tata kelola organisasi,
iii. Analisis mengacu kepada data dan informasi untuk mendukung evaluasi, pembuatan keputusan, dan program perbaikan.
j. Social responsibility:
i. Menekankan tanggung jawab kepada public, etika, dan perilaku sebagai warga Negara yang baik.
ii. Memiliki perencanaan yang matang untuk mencegah timbulnya masalah
iii. Bertanggung jawab untuk memelihara ketenangan, keamanan, dan kestabilan kondisi mayarakat.
k. Fokus on results and creating value:
i. Pengukuran focus pada pencapaian hasil,
ii. Hasil digunakan untuk menciptakan keseimbangan nilai bagi stakeholder dan lingkungan.
l. System perspective:
i. Dibangun untuk mendukung organsiasi mencapai kinerja terbaik,
ii. & criteria dan 11 nilai inti membentuk suatu integrasi bangunan yang kokoh sebagi system,
iii. Memastikan semua perencanaan, proses, pengukuran, dan kegiatan berjalan efektif.
MODUL 2
Baldrige Criteria
7 kategori, 18 item, 32 ruang lingkup, 84 sub-bagian, 191 pertanyaan
1. Leadership
1. Senior leadership (proses yang dilakukan dalam menetapkan dan menyampaikan arahan, tata kelola organisasi, dan tinjauan kinerja).
2. Governance & social responsibility (tanggung jawab terhadap public, tingkah laku etis, dan dukungan terhadap komunitas)
2. Strategic planning
1. Pengembangan strategis (bagaimana organisasi menetapkan arah strategis dan mambangun sasaran strategis yang bertujuan untuk memperkuat kinerja dan daya saing).
2. Implementasi strategis (bagaimana organisasi menerjemahkan sasaran-sasaran strategis ke dalam rencana tindakan dan melakukan penilaian terhadap kemajuan pencapaiannya.
3. Customer & market focus
1. Pengetahuan tentang pelanggan dan pasar (bagaimana organisasi mendapatkan pengetahuan tentang pelanggan dan pasar):
2. Hubungan antara pelanggan dan kepuasan pelanggan (bagaimana menangani keluhan pelanggan secara efektif pada kontak pertama, maka kepuasan dan loyalitas akan meningkat. Kepuasan pelangggan merupakan syarat utama loyalitas dan referensi positif pelanggan)
Untuk memahami pelanggan dan pasar, dapat menggunakan atau mendengarkan voice of customer
4. Measurement, analysis, and knowledge management
1. Pengukuran, Analisis, Perbaikan kinerja (pengukuran kinerja, menganalisis, menyelaraskan, me-review, dan memperbaiki kinerja melalui penggunaan data dan informasi diseluruh level dan bagian organisasi. Penggunaan hasil review untuk mengevaluasi dan memperbaiki proses secara sistematis).
2. Pengelolaan informasi, Teknologi informasi, Pengetahuan ( bagaimana organisasi memastikan mutu dan ketersediaan data, informasi, hardware dan software, yang dibutuhkan oleh tenaga kerja, pemasok, mitra, kolaborator, dan pelanggan. Bagaimama membangun dan mengelola asset pengetahuan.
5. Workforce focus: tenaga kerja yang dimaksud meliputi semua orang yang secara aktif terlibat dalam pelaksanaan pekerjaan organisasi, yang terdir dari karyawan tetap, trainee, kontrak, dan outsourcing)
1. Workforce engagement (bagaimana penempatan tenaga kerja, memberikan kompensasi, dan penghargaan dalam rangka mencapai kinerja unggul)
2. Workforce environment (bagaimana organisasi membangun lingkungan kerja yang efektif, menjamin keselamatan dan keamanan, dan mengelola kapabilitas dan kapasitas tenaga kerja untuk melaksanakan pekerjaan organisasi dalam rangka mendukung pencapaian kinerja yang unggul)
6. Process management:
1. Work system design (
2. Work process management and improvement (bagaimana mengimplementasikan, mengelola, dan memperbaiki proses kunci untuk member nilai kepada pelanggan dan mencapai keberhasilan serta kelangsungan organsiasi).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar